Evolusi Musik

mengapa harmoni suara sangat menarik bagi gen manusia

Evolusi Musik
I

Pernahkah kita menyadari betapa anehnya respons tubuh kita terhadap musik? Coba bayangkan momen ini. Kita sedang duduk di kereta, memasang earphone, dan tiba-tiba lagu favorit kita mengalun. Saat melodi mencapai bagian puncaknya, bulu kuduk kita meremang. Jantung berdetak sedikit lebih cepat. Tiba-tiba ada perasaan haru, atau mungkin semangat yang meletup-letup. Kalau kita pikir-pikir secara logis, ini sungguh absurd. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Secara fisik, gendang telinga kita hanya sedang ditabrak oleh gelombang udara yang bergetar pada frekuensi tertentu. Tidak ada bahaya, tidak ada makanan, tidak ada sentuhan fisik. Namun, getaran udara tak kasat mata ini bisa membuat kita menangis, tertawa, atau tiba-tiba menghentakkan kaki tanpa sadar. Mengapa tubuh kita merespons susunan nada seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat krusial bagi kehidupan kita?

II

Untuk menjawab keanehan ini, mari kita mundur jauh ke belakang. Sangat jauh. Sekitar 40.000 tahun yang lalu, di sebuah gua di Jerman, nenek moyang kita sedang duduk mengukir tulang burung nasar. Mereka melubanginya dengan presisi, menciptakan apa yang sekarang kita kenal sebagai seruling Hohle Fels. Instrumen musik tertua di dunia. Teman-teman, ini berarti jauh sebelum manusia menemukan roda, jauh sebelum kita mengenal tulisan atau pertanian, kita sudah menciptakan musik. Namun, dari kacamata biologi evolusioner, musik adalah sebuah teka-teki yang sangat merepotkan. Evolusi biasanya sangat pelit. Sifat atau kebiasaan yang membuang-buang energi dan tidak berkontribusi langsung pada kelangsungan hidup biasanya akan dibuang oleh seleksi alam. Membuat alat musik, bernyanyi, dan menari itu menghabiskan kalori yang luar biasa besar. Terlebih lagi, suara bising bisa mengundang predator. Bapak evolusi kita, Charles Darwin, bahkan pernah mengaku kebingungan. Dalam bukunya, ia menulis bahwa kemampuan manusia memproduksi dan menikmati musik adalah salah satu misteri paling misterius di alam semesta. Mengapa seleksi alam membiarkan gen pemusik ini bertahan di dalam DNA kita?

III

Mari kita bawa misteri ini ke laboratorium modern. Ketika para ilmuwan memasukkan seseorang ke dalam mesin pemindai otak (fMRI) dan memutarkan musik, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Otak tidak hanya menyala di satu titik. Berbeda dengan saat kita membaca atau memecahkan soal matematika, musik memicu kembang api saraf di hampir seluruh bagian otak. Korteks pendengaran, area motorik, hingga sistem limbik yang mengatur emosi, semuanya menyala bersamaan. Puncaknya, otak kita dibanjiri oleh dopamin. Ini adalah zat kimia yang sama yang dilepaskan otak saat kita makan makanan lezat atau jatuh cinta. Dopamin adalah cara otak memberi tahu kita: "Ini bagus untuk kelangsungan hidupmu, lakukan lagi." Tapi tunggu dulu. Kita paham kenapa makan memicu dopamin; kita butuh kalori untuk hidup. Tapi mengapa otak memberi kita hadiah dopamin hanya karena mendengar harmoni suara? Psikolog Steven Pinker pernah menyebut musik sebagai auditory cheesecake—sebuah kebetulan biologis yang sekadar menggelitik titik manis di otak kita tanpa tujuan evolusioner yang nyata. Benarkah sesederhana itu? Ataukah ada sebuah rahasia bertahan hidup yang disembunyikan oleh harmoni nada, yang tanpa sadar diwariskan oleh nenek moyang kita dari generasi ke generasi?

IV

Ternyata, rahasianya terletak pada kekacauan dunia purba tempat nenek moyang kita hidup. Dunia alam liar itu bising, acak, dan berbahaya. Suara dahan patah bisa berarti harimau yang mengendap-endap. Jeritan sumbang adalah tanda bahaya. Di tengah kekacauan (chaos) tersebut, harmoni dan ritme adalah sebuah bentuk keteraturan (order). Otak manusia berevolusi menjadi mesin pencari pola yang sangat canggih. Ketika kita mendengar harmoni—nada-nada yang berpadu secara matematis dan terprediksi—otak kita merasa aman. Kita diberi hadiah dopamin karena berhasil menemukan pola di tengah ketidakpastian. Namun, alasan terbesarnya jauh lebih emosional daripada sekadar matematika. Harmoni memaksa manusia untuk bersatu. Ketika suku-suku purba bernyanyi, memukul gendang, dan menari bersama mengelilingi api unggun, terjadi sebuah fenomena neurologis yang disebut neural entrainment. Gelombang otak mereka secara harfiah menjadi selaras. Detak jantung mereka berdegup pada tempo yang sama. Otak mereka membanjiri tubuh dengan oksitosin, hormon ikatan sosial. Di alam liar yang keras, manusia yang sendirian pasti mati. Suku yang tidak kompak akan hancur. Musik adalah lem sosial pertama yang mengikat umat manusia. Suku yang bernyanyi bersama, akan bekerja sama dengan lebih baik, bertarung lebih berani, dan pada akhirnya, bertahan hidup lebih lama. Harmoni suara sangat menarik bagi gen kita karena di masa lalu, harmoni adalah kunci keselamatan.

V

Jadi teman-teman, ketika kita sedang berada di sebuah konser musik, berdiri di tengah ribuan orang tak dikenal, lalu tiba-tiba kita semua menyanyikan lirik yang sama dan merasakan gelombang emosi yang identik, kita sebenarnya sedang melakukan ritual purba. Kita sedang mengulangi apa yang membuat spesies kita selamat dari kepunahan. Musik bukanlah sekadar hiburan kosong atau produk sampingan evolusi. Ia adalah bukti kecerdasan emosional leluhur kita. Ia adalah bahasa empati tertua yang tertanam jauh di dalam DNA kita. Lain kali, saat kita mendengarkan lagu yang membuat kita tersenyum atau bahkan meneteskan air mata, sadarilah betapa indahnya hal itu. Tubuh kita sedang berbicara dengan masa lalu. Kita merespons musik dengan begitu kuat karena di dalam setiap harmoni, gen kita mendengar bisikan nenek moyang kita yang berkata: selama kita menemukan harmoni dan bergerak bersama, kita akan baik-baik saja.